Lets Grow

19 10 2017

Pernahkan kita bermimpi memiliki pekarangan yang ditumbuhi pohon buah,  sayur dan aneka bunga?  Pekarangan yang apabila kita membutuhkan sesuatu tinggal ngepot ke depan untuk memetiknya.  Kalau jawabannya iya,  berarti kita berada pada mimpi yang sama teman.  Mimpi untuk memiliki hunian dengan lingkungan yang asri,  hijau dan sejuk.

Mimpi memiliki hunian denga  lahan yang luas telah saya miliki sejak kecil.  Bagaimana tidak,  dulu saya tinggal di kampung yang setiap rumah memiliki pekarangan yang luas yang bisa digunakan untuk menanam aneka tumbuhan,  menjemur padi dan berlarian.  Semua rumahbmemiliki pekarangan itu,  kecuali rumah saya. Kasian yak.  Karena keluarga saya adalah keluarga pendatang,  jadi hanya membeli tanah semampunya.  Dahulu ada sisa tanah di samping rumah yang ditanami pohon mangga. Saat siang saya senang berada di bawahnya menikmati sepoy angin,  namun seiring berjalannya waktu pohon tersebut dimusnahkan karena proyek pelebaran rumah.

Saat telah berkeluarga dan sempat berpindah-pindah, kami memutuskan untuk membeli hunian di pinggir jakarta.  Mimpi saya pun masih tetap sama,  mempunyai pekarangan yang luas.  Alhamdulillah teras rumah kami cukup luas.  Namun sayang,  saya masih terbuai mimpi,  tidak ada usaha untuk mempercantik rumah tersebut.

Setelah hampir dua tahun saya mulai meminta anggaran membeli pot,  bunga dan tanah.  Rumah kami mulai berwarna. Namun sayang belum ada setahun kami merawat tanaman itu,  kami harus hijrah kembali.

Sekarang, di tempat yang baru ini kami mendapatkan hunian dengan pekarangan yang cukup luas.  Tak ingin mengulangi kesalahan masa lalu,  saya langsung beraksi.  Pekarangan itu awalnya hanya ditumbuhi oleh alang-alang,  tanahnya cenderung tandus.  Apa yang saya lakukan?  Setiap hari saya mencabuti rumput,  hanya itu selama satu minggu.  Pada minggu kedua saya mulai menanam bumbu dapur dan pohon pandan di dekat kran air.  Hasilnya nihil.  Tunas empon-empin tak kunjung muncul,  daun pandan pun seolah enggan hidup.  Tapi kami tidak menyerah. 

Berbagai cara kami lakukan untuk membuat tanah itu subur.  Awalnya kami menghamparkan tiga karung tanah kompos di pekarangan,  namun hasilnya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.  Kemudian saya mencari referenso mengolah sampah dapur dengan metode takakura,  sayangnya gagal.  Keranjang takakura saya penuh belatung. 

Daun banwang, berasal dari akar daun bawang yang ditanam kembali.

Sempat saya putus asa sejenak.  Kemudian saya menggunakan cara kuno.  Melubangi tanah dan memasukkan sampah dapur di dalamnya.  Tanah di belakang rumah pun menjadi sasaran percobaan.  Dan metode ini cukup sukses.  Dengan menimbun sampah dapur kami memperoleh tiga manfaat sekaligus.  Manfaat pertama buangan ssampah rumah tangga kami berkurang drastis,  jadi secara tidak langsung kami mempunyai andil yang cukup dalam penyelamatan lingkungan.  Hehe.  Manfaat kedua,  kami mendapatkan pupuk cuma-cuma.  Dan manfaat ketiga,  kami memperoleh benih tanaman sayur secara langsung tanpa perlu menyemainya.  Enak bukan.

Bungkus beras, bungkus minyak,, semua dimanfaatkan

Ketika sukses saya justru kebingungan mencari lahan lagi.  Karena pekarangan telah sesak oleh berbagai tumbuhan.  Tak mau menyerah,  saya mempergunakan karung bekas tempat beras sebagai tempat menanam.  So,  tak ada lagi alasan untuk menunda ya! 

Yuk kita panen

Iklan




Anak Petani Bukan Petani

19 10 2017

Dari balik dinding kamarnya hati Rani berdebar kencang.  Ia menempelkan daun telinganya pada pintu kamar,  ingin tahu apa yang terjadi namun malu untuk menunjukkan diri. 

“Baiklah,  kami terima lamaran Pak Haji.  Terkait tanggalnya,  saya bicarakan dulu dengan keluarga besar”,  suara parau itu membuat hati Rani lega.  Alhamdulillah,  batinnya sambil meneteskan air mata. 

Betapa bahagianya hati anak sulung pak Dibyo itu,  Bapaknya mau menerima lamaran Karjono.  Seorang pria dari dusun sebelah.  Walaupun ia belum begitu mengenal lelaki berjenggot tipis itu,  namun banyak orang berkata Karjono adalah lelaki yang baik.  Ia adalah anak tunggal Haji Safri,  tuan tanah di sebuah kabupaten di Jawa Tengah.

Lamaran ini pasti membuat bangga keluarga.  Ayah Rani hanyalah seorang guru SD bergaji pas-pas an dengan tiga orang anak.  Rani hanya tamat SMA.  Adiknya masih SMP dan SD. Awalnya perempuan berambut lurus sebahu itu ragu apakah ayahnya akan menerima lamaran itu,  mengingat Karjono sampai saat ini tidak diketahui apa pekerjaannya,  selepas kuliah ia hanya berdiam diri di rumah.  Namun ternyata ayahnya menerima juga pinangan itu. “Mungkin Mas Karjono menjadi petani seperti pak Haji”,  begitu batin Rani.

Dua bulan dari lamaran itu,  mereka menikah.  Pesta yang cukup meriah,  semuanya dibiayai oleh keluarga Karjono.  Rani kemudian tinggal di rumah mertuanya. Karena suaminya adalah anak tunggal,  jadi ibu mertuanya memintanya untuk tinggal bersama.

Tinggal di rumah mertua tak membuat Rani bermalas-malasan. Setiap hari ia membantu ibu mertuanya membereskan rumah dan memasak.  Bapak mertuanya rajin sekali ke sawah,  namun suaminya hanya tinggal di rumah.

Usai sholat subuh Karjono menikmati kopi biatan istrinya di teras. Saat matahari mulai bersinar,  ia memberi makan burung puyuh di belakang rumah.  Sesekali membersihkan kandang dan mengambil telurnya. Selesai mengurus 200 ekor puyuh  ia bergegas mandi dan sarapan.  Setelah kenyang  Karjono membuka laptopnya di teras.  Rani masih belum mengerti apa yang dilakukan suaminya.  Sedangkan ayahnya usai menikmati kopi bikinan menantunya,  langsung pergi ke sawah.  Rutinitas tersebut berulang setiap harinya. 

Genap satu bulan usia pernikahannya Rani menanyakan perihal rutinitas tersebut.  “Mas,  bolehkah aku bertanya?”,  ucapnya ragu-ragu sambil mendekati suaminya yang sedang asyik membaca di depan laptop

“ya boleh to istriku sayang”,  ucap Karjono sambil melihat istrinya.  Istrinya pun mengambil posisi duduk disampingnya,  setengah menyandarkan badannya. 

“Gini mas,  satu bulan ada disini saya kok enggak tau apa kerjaan mas Karjono”,  ucapnya.  Mengambil nafas memberi jeda.

“Kenapa Mas gak pernah bantuin Bapak ke sawah?  Apa mas gak kasihan sama Bapak?”,  lanjutnya. Yang diajak biacara hanya memandang dan tersenyum.

“Mas,  Bapak tu udah sepuh,  kasian kalau ndak ditemani”, lanjutnya lagi.

“Mas kok malah main laptop saja kerjanya”,  Rani seolah menumpahkan uneg-unegnya satu bulan ini. 

Karjono mengambil tangangan istrinya,  memegangnya erat, masih dengan tersenyum.  “Dik,  maaf sebelumnya kalau Mas belum cerita tentang masalah ini”, lelaki berkulit putih itu tersenyum. 

“Dari dulu Mas gak dibolehin Bapak buat ke sawah,  Bapak cuman mau mas belajar”,  sambungnya. Istrinya mengrenyitkan dahi.  Saat akan memberondong pertanyaan lagi,  terdengar suara dari dalam rumah. 

“Iya ndhuk,  Mas mu itu gak bisa pergi ke sawah.  Badannya gatel-gatel“,  ucap ibu mertua Rani sambil membawa pisang goreng. 

“Dahulu Mas Karjono pernah ikut ke sawah.  Eeee lha kok pas pulang badannya gatel semua.  Merah-merah seluruh badan, lalu di bawa ke dokter”,  imbuh perempuan paruh baya itu. 

“Dokter bilang Mas Karjono punya alergi,  jadi tidak bisa diajak ke sawah”, perempuan itu menyeruput teh.  “Sejak saat itu Bapak gak ngebolehin Mas Karjono ke sawah”. Rani pun melonggo mendengar penjelasan itu 

“Nah karena Mas gak Bisa bantu Bapak langsung di sawah, Mas berpikir keras bagaimana supaya Mas bisa bantu Bapak”,  ucap karjono.

“Mas belajar dengan rajin,  kuliah ambil jurusan pertanian.  Semata-mata untuk Bapak”,  lelaki itu berhenti sejenak, pandangannya menerawang. Ia pandangi wajah istrinya. 

“Setiap hari mas di depan laptop,  memasarkan hasil panen Bapak supaya apa yang susah payah Bapak kerjakan tidak diakali sama tengkulak”, ucapnya sambil tersenyum. 

“Kadang Mas juga mencari tahu teknologi pertanian yang terbaru untuk membantu meringankan Bapak”. “Terima kasih ya Sayang,  kamu memanga istri shaliha, bukan hanya mencintai suami namun juga kedua orang tuanya”,  Karjono pun memeluk erat istrinya.  Ibunya yang melihat pemandangan itu merasakan haru dan bahagia bercampur menjadi satu. 





Dilema

17 10 2017

Pada waktu yang tak pernah kembali
Aku merenung seorang diri
Tak tahu ke mana akan pergi

Pada jalan yang telah ku lalui
Wajah banggamu kutemui
Kalau tak ku bahagiakan hari ini
Lalu kapan lagi? 

Pada mimpi yang membuncah di hati
Ada tawa buah hati
Kalau tak kusambut hari ini
Waktu tak akan kembali
Dalam bimbang aku tumbang
Tersungkur sujud di kala malam
Memohon kepada Sang Esa menunjukkan jalan

Waktu tak bisa menjawab
Kita harus berjuang
Hari ini adalah pilihan
Tuk dapat raih tujuan





​Manfaat Kutu

16 10 2017

Saat masih kecil saya tinggal di sebuah desa di pinggiran kota.  Masih ada persawahan namun kondisi jalan telah baik teraspal.  Masyarakat yang tinggal di desa saya di dominasi kalangan menengah ke bawah.  Kebanyakan dari mereka adalah petani. Sedangkan keluarga kami adalah keluarga pendatang,  pindahan dari sebuah perumahan yang padat demi mencari tanah yang lebih luas.

Sebagai anak berusia lima tahun,  kepindahan ke desa ini memberikan kesenangan tersendiri.  Teman-teman baru,  lingkungan baru dan ruang bermain yang sangat luas.  Kadang saya kabur saat disuruh tidur siang,  pergi ke kebon bersama teman sebaya mengumpulkan bekicot. Atau saya ikut sebuah keluarga yang akan pergi ke sawah,  bermain sungai kecil di samping pematang.  Dan semuanya berujung omelan ibunda.

Pada masa itu saya merasakan sesuatu di rambut saya.  Berjalan perlahan menyusuri setiap batang rambut.  Tak jarang tangan ini menggaruk sebal.  Momen itu kemudian tertangkap oleh ibu,  saya digiring untuk duduk di depan pintu.  Dengan bermodal serit,  ibu mulai menyisir rambut saya dan berteriak girang ketika menemukan kutu.  Atau di malam hari saat senggang menonton televisi,  jemari ibu akan menelusur kulit kepala,  lagi-lagi mencari kutu. Kadang saya senang,  kadang juga risih dengan aktivitas mencari kutu ini.

Itu masa kecil saya.  Untuk ukuran anak kampung yang mainnya ke sawah dan kebon,  wajarlah kalau kepala ini dihuni kutu.  Apalagi di jaman itu tak banyak teman saya yang mencuci rambutnya dengan shampo. Pemandangan rutin yang hampir terjadi setiap sore atau siang hari  adalah wanita-wanita di depan pintu sambil membuka-buka helaian rambut untuk mencari kutu.

Gambar: diambil dari pinterest

Herannya,  dua tahun lalu saya menemukan kutu di kepala anak saya.  Awalnya saya curiga,  kenapa si sulung mempunyai intensitas menggaruk kepala yang cukup tinggi.  Ternyata rambutnya dihuni oleh keluarga kutu. Kalau kakak berkutu otomatis adeknya juga doong.  Padahal saben hari kedua anak saya mandi keramas lho. Kami pun tinggal di pinggiran ibu kota,  di lingkungan yang bersih dan peduli kebersihan. Halo ini jaman milenial,  era digital,  masih saja ada kutu.
Berbagai cara dilakukan,  mulai dari membeli sisir kutu,  menggunakan obat kutu,  sampai-sampai mengguyurkan minyak kayu putih di kepala.  Cara terakhir buat saya paling enak,  serasa dipijat,  semriwing dan sukses bikin kutu mabok.  Namun tidak dengan kedua anak saya,  mereka bilang pedih. Saat berhasil membasmi secara massive,  kutu akan hilang dari kepala kami.  Namun entah mengapa selang beberapa bulan doski datang lagi.  Emak jadi bingung nih.

Sampai pada suatu hari saya membaca postingan ibu Elly Risman melalui akun facebook Yayasan Kita dan Buah Hati. Tulisan tersebut berjudul ‘Bukan Urusan Elo Kalee’. Di dalam tulisan tersebut diceritakan tentang seorang ibu yang membawa anaknya ke salon untuk mengambil telur-telur kutu.  Hal ini dilakukannya karena anaknya tidak mau kalau ibunya yang mengambilnya,  serta mungkin karena kebiasaan nyalon yang telah ditanamkan sejak piyik.  Dalam tulisan tersebut tergambar jelas pergeseran bonding antara ibu dan anaknya. 
Saya bukan akan mengkritisi si ibu itu,  karena saya bukanlah ibu yang sempurna. Saya masih sering lost control menata emosi di depan anak-anak. Yang saya mau soroti adalah,  Subahanallah ternyata Allah STW ciptakan kutu itu memiliki peran yang cukup besar dalam kehidupan.  Bagaimana tidak,  melalui kutu mampu mendekatkan ibu dan anak.  Kutu mampu membuka pembicaraan ibu dan anak yang memiliki rentang tahun kelahiran yang cukup jauh.  Lebih jauh lagi,  momen mencari kutu adalag momen yang indah untuk dikenang saat anak dewasa. Dan lagi konon katanya di kekitar tengkuk kita terdapat banyak sekali syaraf yang terkait dengan rasa kasih sayang. Jadi semakin sering kita membelai rambut dan kepala anak kita,  semakin mereka mengingat betapa besarnya kasih sayang kita. 





​Welcome Happy Day

15 10 2017

Sebagai seorang ibu beranak dua saya sangatlah kagum kepada ibu-ibu yang berhasil membesarkan anak dan mengurus rumah tangga tanpa bantuan asisten.  Bagaimana tidak,  seharian di rumah bersama krucils dan segudang pekerjaan rumah itu butuh tenaga yang besar loh. 
Sebagai wanita kantoran,  saya memiliki waktu untuk me time lebih banyak daripada ibu rumah tangga.  Bagaimana tidak,  kala kerjaan telah selesai kita bisa dengan asyik youtubing.  Atau kalau pengen jalan ke luar berdua aja sama suami,  ya tinggal mampir saja seusai pulang kerja.  Nah bagaimana dengan ibu rumah tangga? Mau mandi aja susah.  Mau buang hajat udah aja digedor-gedor pintu kamar mandinya.

Salah satu aktivitas yang bikin kedua anak ini diem, meronce sereal. Usai meronce mereka kan melahapnya dengan riang

Kenapa saya bisa cerita, karena saya pernah mengalaminya.  Saat saya sedang menjalani status tugas belajar,  setiap dua bulan sekali asisten rumah tangga saya liburkan selama dua minggu.  Karena dua minggu tersebut adalah saat liburan mid semester/ semesteran.  Nah di situ saya mulai bekerja keras.  Pagi hari saat bocah belum bangun,  saya memasak dan merapikan rumah sekenanya. Kalaupun si bocah bangun,  masih ada bapaknya yang bisa handle.  Nah keributan dimulai saat suami berangkat kerja,  karena si bayi aktif maunya ditemenin terus.  Ditinggal buang air udah gower-gower,  pokoknya nempel aja sama emaknya.  Situasi tergenting adalah saat pukul sepuluh pagi,  si emak yang tidur lebih lambat dan bangun paling cepat mulai kehilangan kesadaran.  Walhasil si bocah asyik main sendiri di samping emak yang terkapar.  Kalau sudah bosan,  ya emaknya kena gampar, dipukul terus sampai bangun. Alhamdulillah sebagian besar bisa ditangani, hanya satu hal yang saya tidak sanggup melakukannya yaitu setrika.  Nyerah pokoknya sama pekerjaan satu itu.  Lah trus gimana?  Yaa semua baju dibiarin numpuk gitu aja,  kalau longgar ya kadang nyetrika namun hanya merapikan sepuluh persennya saja.  Jadi seusai libur asisten kesayangan selalu mendapatkan bonus,  bonus tumpukan pakaian untuk disetrika.  Hehe

Tak terasa sudah dua tahun lebih saya tidak mengalami masa-masa itu. Saat anak sulung saya berusia dua tahun,  saya sudah aktif berkantor kembali.  Dan itu berarti selalu ada asisten kecuali saat mudik.  Dan kalau mudik pasti ada bala bantuan dalam menjaga bocah. 

Namun sekarang,  karena sesuatu dan lain hal asisten kesayangan harus pulang dan tak kembali lagi.  Disitu saya merasa galau.  Kegalauan saya sirna dengan ditandatanganinya surat cuti besar.  Sampai berakhir tahun 2017 insyaAllah saya akan di rumah bersama bocah-bocah.  Ditandatanganinya surat cuti tersebut juga membawa konsekuensi yang cukup besar,  saya harua menyiapkan stamina yang kuat untuk menghadapi hari-hari ke depan.  Fisik yang sehat,  stok sabar yang unlimited,  serta ilmu pengetahuan yang harus senantiasa saya update. Konon katanya kalau bisnis gagal bisa dimulai,  pekerjaan gagal bisa diulang, namun mendidik anak harus berhasil karena waktu itu tak akan kembali. 





Toilet Sarat Ghibah

13 10 2017

ALLOOHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAAITSI 

Di atas adalah doa masuk kamar mandi yang sering kita baca.  Arti dari doa teesebut adalah, ‘Ya Allah aku berlindung dari godaan syetan laki-laki dan syetan perempuan’. Syetan dalam hal ini diartikan syetan yang sebenarnya,  ada pula yang mengartikan selain syetan yang sebenarnya juga merujuk pada kuman.  Kuman atau kotoran mempunyai sifat yang buruk, makannya kita dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan kamar mandi. 

Bicara tentang kamar mandi atau yang lebih sering disebut toilet,  mengingatkan saya pada sebuah penggalan artikel bahwa wanita paling demen bergosip di kamar mandi.  Makannya tiap kali ke kamar mandi wanita selalu mengajak temannya.  Dan hal ini tidak terjadi pada laki-laki.  Kebayang gak kalau ada laki-laki yang kebelet buang air trus bilang,  “yuk temenin pengen ke toilet nih”. Pasti teman yang diajak langsung menjawab, “bencong,  pergi noh sendiri!”. 

Ternyata artikel tersebut benar adanya.  Sebagai seorang wanita saya tidak termasuk dalam kategori yang minta ditemenin ke toilet waktu kebelet.  Namun,  saya merasa lebih tenang ketika ada teman yang sama-sama ke toilet. Haha,  sama aja yak! 

Dan lagi bagi seorang wanita toilet ternyata bukan hanya sekedar tempat buang hajat.  Lebih dari itu,  cermin yang lebar dan lighting yang terang membuat toilet menjadi tempat touch up. Jadi betah deh kalau cecewe-cecewe ada temennya di toilet. Awalnya mereka akan membahas bagaimana membuat alis yang baik,  memakai maskara agar tidak beleber atau membicarakan skincare baru yang lagi hits.  Selanjutya,  kadang-kadang mereka membahas tentang pekerjaan,  mengoreksi bos nya,  atau mengeluhkan anaknya.  Lama-lama mereka menghentikan aktivitas berdandan,  mengecilkan volume,  dan berhosip

Saya juga pernah mengalaminya sendiri. Rutinitas saya setiap pagi ketika sampai di kantor adalah pergi ke toilet,  membasuh tangan kemudian ke pantry mengambil minum. Saat di toilet tak ada orang,  semuanya berjalan sesuai skenario.  Namun ketika ada satu orang saja,  rutinitas mencuci tangan minimal membutuhkan waktu lima menit.  Pernah suatu hari,  saya masuk ke toilet kemudian menemukan seorang teman,  karena saya sedang penat saya menceritakan hari saya dan kami berdua sukses terlambat mengikuti apel pagi. 

Toilet menjadi tempat bergosip, itu mungkin akibat bisikan syetan.  Dan di era melenial ini bentuk dari syetan bukan hanya semata-mata makhluk menyeramkan dengan rambut menjuntai dan kuku yang tajam.  Syetan memgalami perkembangan juga,  mereka berubah menjadi solidarisme yang berujung pada menggunjing orang lain. Semoga kita selalu terhindar dari godaan syetan yang terkutuk. 





Timun Suri Bukan Timun Mas

12 10 2017

Pada suatu hari, di sebuah desa hiduplah sepasang petani.  Petani ini sangat giat bekerja sehingga tanamannya subur dan hasil panennya selalu banyak.  Namun ada satu hal yang membuat petani ini sedih, di usia pernikahan yang cukup lama mereka belum dikaruniai buah hati. 
Pak tani yang menyibukkan diri dengan mengurusi tanamannya bersedih melihat sang istri yang belakangan mulai murung.  “Kenapa Bu kamu belakangan murung sekali”,  tanyanya. 

“Pak, kita ini menikah sudah lama.  Tanaman kita tumbuh subur,  kekayaan kita cukup,  tapi Ibu sedih Pak karena kita belum mempunyai anak”. 

“Besabarlah Bu,  banyak berdoa”,  jawab sang suami,  walaupun dalam hatinya menyimpan kesedihan yang sama.  “Bu kita ke kebun saja yuk,  mengurus tanaman kita yang mulai memasuki masa panen”,  lanjutnya.  Istrinya pun menyetujui,  mereka pergi ke kebun.  Namun selama perjalanan sang istri lebih banyak melamun.  Tiba-tiba di tengah jalan mereka dikagetkan dengan suara yang besar. 

Ha ha ha ha,,,  wahai kalian kenapa kalian berdua tampak murung? “,  tanya sesosok raksasa di depan mereka. 

E e,,  siapa kamu? “,  ucap sang suami terbata-bata.  Istrinya hanya mampu menggenggam lengannya. 

Hahaha,,,  aku raksasa penguasa hutan ini”,  jawabnya.  “Aku bisa mengabulkan permintaanmu”,  ucapnya lagi. 

Tiba-tiba wajah sang istri berbinar,  “Benarkah?  Jika kau memang sakti, maka berikanlah kami seorang anak.  Kami sudah lama menginginkannya”,  ucap sang istri tegas.

Hmm,,, itu mudah sekali buat ku”,  kata raksasa itu. “Ini,  tanamlah biji ketimun ini.  Rawatlah ia baik-baik,  sampai dia berbuah.  Di dalam buah itu kalian akan menemukan anak”, ucapnya sembari memberikan biji ketimun. 

Ha ha ha,,  ha ha ha,,, ,” raksasa itu menghilang. 

Kedua petani tersebut masih tidak percaya.  Sang istri memegang erat biji ketimun itu.  “Bu ayo kita coba tanam biji ini”,  ucap suaminya. Keduanya bergegas mempercepat langkah menuju ke kebun. 

Kemudian mereka memanen jagung yang telah besar itu.  Mencabuti pohonnya dan menanam biji-biji itu ke dalam tanah.  Mereka melakukkannya cepat sekali.  Kegembiraan dan harapan yang besar memberikan energi yang luar biasa kepada keduanya. 

Hari demi hari berlalu.  Setiap sore petani menengok kebunnya.  “Pak,  aku tidak sabar melihat anak kita”,  kata sang istri suatu hari. 

“Lihat bu,  pohon yang paling ujung sudah mulai berbunga.  Sebentar lagi pasti akan berbuah”, ucap sang suami yang juga penuh harap. 

Satu bulan kemudian,  pohon-pohon ketimun itu telah memiliki buah yang cukup besar.  Buarnya berwarna emas dan segar. “Pak,  apakah ini anak kita??”,  tanya sang istri. 

“Bu lihat,  di ujung sana ada buah yang paling besar.  Warnanya pun paling berkilau”,  ucap sang suami.  Keduanya pun menghampiri buah yang dimaksud. Sang suami memetiknya dan membelahnya perlahan.  Istrinya berdiri penuh harap di sampingnya. 

Namun sayang,  harapan mereka pupus sudah.  Ketimun yang mereka belah hanyalah buah ketimun biasa, hanya saja bentuknya yang besar dan rasanya manis sekali. Sang suami hanya mampu memeluk istrinya,  sang istri pun menangis tanpa kata-kata.

Tiba-tiba terdengar suara kereta kuda.  Disusul suara pria yang berteriak penuh wibawa, “hai petani,  kenapa kalian tampak bersedih?”,  kata lelaki itu.  “Padahal ku lihat kebunmu memberikan hasil yang bagus”, ucapnya.  “Buah apakah itu?  Seperti ketimun tapi mengapa besar sekali?”,  lelaki itu turun dari keretanya dan mendekat. 

Ternyata lelaki tersebut adalah raja.  Ia mendekat kemudian memotong ketimun dengan pedangnya,  memasukkan potongan itu ke dalam mulutnya.  “Wah ketimun ini enak sekali”,  ucapnya girang. 

“Bolehkah aku membeli semua ketimun ini?  Ku lihat semua buah di kebun ini telah ranum”,  tandasnya. 

Mereka berdua hanya bisa mengangguk.  Karena mereka sebenarnya tidak menginginkan ketimun itu.  Mereka menginginkan anak. 

“Prajurit,  panen semua ketimun yang ada di kebun ini dan bawa ke kerajaan”, perintah sang raja.  Sang raja kemudian kembali ke dalam kereta,  mengambil sebuah peti dan memberikannya kepada petani.  “Ini ambilah sebagai ucapan terima kasihku kepada kalian”.  Kemudian rombongan itu kembali ke istana. 

Pasangan petani tersebut kembali ke rumah dengan gontai sambil membawa peti.  Sesampainya di rumah mereka membuka peti itu.  Ternyata di dalamnya terdapat banyak sekali perhiasan emas dan berlian.  Mereka tidak percaya.  “Bu lihat apa ini?”,  kata sang suami. 

Sang istri melihatnya dan menanggapi dengan biasa saja.  Kemudian ia berkata,  “Pak bagaimana kalau kita jual saja beberapa perhiasan itu,  kemudian kita belikan kuda agar kita bisa berjalan-jalan”,  kata sang istri. 

“Apapun Bu,  asal kamu bisa tersenyum lagi”,  jawabnya. 

Mereka kemudian bergegas ke pasar menjual separuh perhiasan itu.  Kemudian mereka mencari penjual kuda.  Ternyata susah sekali menemukan penjual kuda.  Saat mereka hampir putus asa mereka bertemu dengan seorang anak lelaki,  berpakaian sedikit lusuh namun senantiasa menyungging senyum.

“Wahai Bapak,  apa kiranya yang kalian cari?  Sepertinya kalian sedang kebingungan? “,  tanya anak itu. 

“Nak,  kami sedang mencari penjual kuda”,  ucap sang suami.  Sang istri hanya memandangi anak itu dengan tersenyum. 

“oh,  ikutlah aku.  Kebetulan kami akan menjual kuda”,  katanya. 

Mereka diajak menyusuri jalan setapak.  Menuji rumah yang cukup besar.  Memasuki pagar rumah banyak sekali anak-anak di dalamnya.  Ada yang sedang menjemur,  ada yang sedang menyapu,  dan ada pula yang sedang bermain. Dari dalam rumah muncul lelaki tua. 

“Pak,  kata Sapri kalian ingin membeli kuda ya? “,  kata lelaki itu. 

“iya Oak,  kami ingin membeli dua ekor kuda”,  kata petani lelaki. 

“Sebetulnya kami memiliki dua ekor kuda.  Namun hanya satu yang akan kami jual,  yang satu lagi masih kami butuhkan”,  ucap lelaki tua itu,  pandangannya menerawang.  “Sebetulnya kuda sangatvkami bituhkan,  namun kondisi ekonomi membuat kami harus menjualnya”,  lanjutnya.  “Ada banyak anak yang buth makan,  namun usaha kami sedang bangkrut”. 

“Memang berapa anak bapak? “,  tanya sang istri. 

” Banyak Bu,  mereka anak yang kami asuh dari keluarga miskin”,  jawabnya. 

“Oh jadi ini bukan anak Bapak? “,  tanya wanita itu lagi. 

” Bukan,  saya sendiri malah tidak punya anak.  Namun mereka saya besarkan seperti anak sendiri”,  ucapnya sambil tersenyum. 

Wanita itu memeluk suaminya,  menangia lagi.  Namun kali ini tangisan haru.  Ada beban yang tiba-tiba hilang dari pundaknya.  Melalui orang tua itu ia sadar bahwa banyak hal di kehidupan ini yang bisa membahagiakan. 

“Pak,  kami tidak jadi membeli kuda.  Namun ambillah ini untuk membiayai kebutuhan mereka”,  kata sang istri sambil menyerahkan sekarung uang. 

“Bu terima kasih,  ini lebih dari harga dua ekor kuda”. 

“Kami mohon Bapak mau menerimanya.  Dan mengijinkan kami untuk sering berkunjung ke tempat ini”,  kata sang suami. 

Mereka pun pulang dengan senyum yang tersungging lebar.  Hati mereka gembira.  Dan mereka rutin mengunjungi panti asuhan itu setiap bulannya. 
Nb: timun yang ditanam petani tersebut dikenal dengan nama timun suri.